Gadget Bukan Lagi Kebutuhan Tersier tetapi Primer
Gadget

Gadget Bukan Lagi Kebutuhan Tersier tetapi Primer

Penggunaan gadget sudah bukan hal baru lagi di kalangan masyarakat. Berbagai kalangan masyarakat sudah mengenal bahkan memakai gadget setiap hari untuk mempermudah keperluan mereka.

Di tengah situasi pandemi COVID-19, penggunaan gadget semakin meningkat karena segala aspek kehidupan melibatkan hubungan daring atau online. Gadget bukan lagi kebutuhan tersier yang bisa dihindari pemakaiannya. Kebutuhan akan gadget seakan menjadi hal utama di masyarakat, terutama di situasi pandemi ini.

Baik dari aspek pendidikan maupun dunia kerja, gadget menjadi kebutuhan utama. Masyarakat kalangan menengah ke bawah harus tetap mengikuti alur perkembangan teknologi meski ekonomi terus menyurut.

Pandemi COVID-19 yang tengah melanda Indonesia sudah lebih dari 3 bulan ini dirasa makin meresahkan masyarakat. Kendala ini tak jarang dirasakan masyarakat terutama pekerja di sektor perdagangan dan pengusaha kecil.

Bukan hanya surutnya ekonomi yang menjadi keresahan di masyarakat, namun meningkatnya kebutuhan akan barang tersier. Dalam pemenuhan kegiatan belajar dan mengajar secara daring atau online, seluruh siswa diharapkan memiliki fasilitas yang menunjang kegiatan belajar mengajar.

Gadget menjadi kebutuhan utama yang harus dipenuhi untuk kelancaran proses belajar mengajar. Masyarakat kalangan menengah ke bawah merasakan tekanan ekonomi selama masa pandemi, selain karena penghasilan berkurang, mereka juga harus membeli keperluan pendidikan untuk anak mereka.

Gadget bukan lagi kebutuhan tersier, kehidupan seakan terkendala tanpa adanya gadget. Berbagai sektor kehidupan, dari pendidikan hingga bisnis, semuanya berbasis online. Namun perkembangan teknologi yang tidak didasari tingginya tingkat pemahaman masyarakat, justru akan berdampak negatif.

Usia remaja adalah usia yang sangat rawan dan memiliki rasa egois yang tinggi, apabila usia remaja tidak dikontrol dengan baik maka akan berdampak buruk pada perilaku remaja tersebut. Tidak semua remaja mampu dan mengerti apa kegunaan gadget dan menggunakannya untuk hal positif, masih banyak remaja yang justru memanfaatkan fasilitas gadget tersebut untuk melakukan hal yang menyimpang dari pendidikan.

Padahal, untuk memenuhi kebutuhan akan gadget tersebut harus berususah payah demi kelancaran pendidikan. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa adanya gadget justru merusak generasi muda, terutama yang belum bisa mengontrol diri.

Peningkatan kebutuhan akan gadget terutama di masa pandemi masih menjadi keluhan utama masyarakat, salah satunya masyarakat di Kecamatan Porong, kalangan pedagang di pasar besar Porong.

Mereka mengatakan bahwa kebutuhan untuk pendidikan makin besar karena biaya pendidikan yang tetap, biaya pembelian baju seragam sekolah, serta keperluan lain juga tidak ada penurunan. Ditambah lagi harus memenuhi kebutuhan gadget yang tentunya dengan spesifikasi mendukung sangat memerlukan biaya yang lebih banyak.

Pemakaian gadget yang sudah menjamah di masyarakat menandakan bahwa gadget bukan lagi kebutuhan tersier, tanpa gadget maka aspek kehidupan juga akan terkendala terutama saat ada pembatasan sosial.

Masyarakat menengah ke bawah harus tetap mengikuti perubahan tersebut, yang mulanya menjadikan gadget sebagai kebutuhan tersier yang tidak diutamakan menjadi kebutuhan yang utama. Masyarakat Indonesia dengan kondisi ekonomi yang berbagai macam tentunya banyak mengalami keresahan karena harus mengikuti ketentuan yang ada.

Diharapkan dengan keresahan masyarakat ini akan menggerakkan instansi terkait untuk menyalurkan bantuan fasilitas belajar untuk masyarakat yang tidak mampu sehingga dunia pendidikan tetap berjalan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *